SEKILAS INFO
20-02-2019
  • Selamat Datang di Website SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) DDI SIDRAP
  • TERAKREDITASI INSTITUSI SK : 823/SK/BAN-PT/Akred/PT/VIII/2015
14
Jan 2019
Metode Pendidikan Baru dalam Beradaptasi dengan Revolusi Industri 4.0

Berbagai upaya pemerintah dan perguruan tinggi kita dalam menyambut penetrasi Revolusi Industri 4.0, yang kedatangannya diharapkan tidak sekadar disambut oleh euforia yang melenakan, tetapi merangsang kesadaran bahwa kesiapaan bangsa ini untuk menceburkan diri pada arus revolusi tersebut harus disertai dengan ‘pemberian bekal’ yang mumpuni agar menghindarkan diri terseret arus globalisasi yang menenggelamkan.

Banyak analisa menyatakan bahwa keunggulan kompetitif (competitive adventage) sebuah bangsa di era Revolusi Industri 4.0 ini sesungguhnya mengejawantah pada kemampuan mengintegrasikan beragam sumber daya yang dimiliki agar memiliki konektivitas pada penguasaan teknologi, komunikasi, dan big data untuk menghasilkan ‘smart product’ dan ‘smart services’, dan tidak sekadar pada produktivitas kerja yang berskala besar semata.

Bayang-bayang industries shock dan empower shock semakin rentan menghantui kesiapan bangsa ini terhadap perubahan yang telah berjalan di hadapan mata. Perkembangan teknologi dan digitalisasi akan membuat sekitar 56 persen pekerja di dunia akan kehilangan pekerjaan dalam 10 sampai 20 tahun ke depan. Realitas tersebut juga selaras dengan proyeksi Organisasi Buruh Internasional (International Labour Organization/ILO) belum lama ini.

Indonesia tentu harus melakukan perubahan di berbagai bidang. Salah satu perubahan itu bisa terbentuk dengan perbaikan sumber daya manusia. Tantangan Utama Revolusi Industri 4.0 adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia, yang dapat mengelaborasi ilmu pengetahuan, keterampilan hidup, dan penguasaan terhadap teknologi informasi.

Revolusi industri 4.0 bukan saja hasil puncak dari perkembangan sains modern, melainkan juga awal terciptanya alam (buatan) baru. Tradisi cara berpikir manusia kemudian berubah dari linier jadi siklikal karena produk-produk teknologi yang dihasilkan manusia tidak saja hanya dilihat sebagai ”hilir” dari pengetahuan dan sains, tetapi juga sebagai ”hulu” pengetahuan untuk melahirkan sains dan produk-produk teknologi baru. Pergeseran cara berpikir ini dapat kita kenali dari berubahnya cara berpikir yang semula disebut sebagai discovery menjadi innovation.

Sejak kelahirannya pada abad ke-17, sains modern telah melahirkan tradisi berpikir yang mengikuti garis linier hubungan antara pengetahuan, sains, dan teknologi. Pengetahuan adalah basis dibangunnya premis-premis atau dalil-dalil umum sains, yang untuk selanjutnya sains akan berperan sebagai ibu kandung dari kelahiran teknologi. Kemudian disusul oleh terciptanya peralatan-peralatan yang mampu digunakan untuk membuktikan dengan akurat hipotesis yang dibangun oleh abstraksi sains.

Pendek kata, keberadaan dan perilaku-perilaku alam merupakan sumber berpikir bagi terbangunnya pengetahuan manusia. Kelak di kemudian hari, pengetahuan tersebut dapat digeneralisasi dalam formula-formula yang dapat menuntun manusia untuk menciptakan alat-alat bantu yang dapat memudahkannya melakukan kegiatan-kegiatan yang sulit dan rumit. Puncak dari tradisi berpikir yang mengikuti garis linier ini adalah masa yang disebut dalam sejarah sebagai revolusi industri, yang pengaruhnya pada perubahan alam dan perubahan perilaku manusia sungguh sangat luar biasa.

Cara berpikir ”inovasi” telah meremas pengetahuan, sains, dan teknologi ke dalam satu genggaman tangan untuk kemudian dibentuk jadi bentukan-bentukan baru yang lebih mudah dipahami, lebih canggih, lebih mudah untuk memudahkan manusia, dan tentu saja lebih memesona. Namun, yang sangat mengejutkan, ternyata dalam waktu hanya sekitar 15 tahun terakhir ini cara berpikir manusia modern sudah bergeser dari ”inovasi” menjadi ”hiper-inovasi” atau tepatnya ”hiper-siklikal”. Artinya, inovasi tidak lagi sekadar dijalankan di atas ”produk tunggal” untuk menambah nilai kebaruan dari produk tersebut, tetapi inovasi dilakukan di atas ”banyak produk” (multiproduk) untuk dilipat jadi satu produk.

Alhasil, ia bukan saja melahirkan nilai kebaruan pada produk lama, melainkan sekaligus melahirkan produk-produk baru atau benda-benda baru yang sebelumnya belum pernah ada. Cara berpikir seperti ini kemudian melahirkan panggung-panggung perlagaan di dunia industri untuk saling bersaing dan saling mengalahkan. Kita banyak menyaksikan perusahaan-perusahaan raksasa dunia terjungkal tanpa membuat kesalahan manajemen maupun produksi hanya karena munculnya benda-benda industri baru yang mengambil teritori pasarnya lantaran para pelanggannya dengan sukarela meninggalkan produk-produknya karena dianggap kuno alias tidak gaul lagi. Dalam payung berpikir seperti itu (hiper-inovatif), baik produsen maupun konsumen hidup dalam perlagaan-perlagaan yang sangat ketat, sibuk, dan cepat karena ”kegaulan” produk-produk teknologi saat ini jadi berusia amat pendek.

Pada perkembangan selanjutnya, untuk melahirkan benda-benda baru serta jasa-jasa baru tersebut di atas dalam payung berpikir ”hiper-inovasi”, sesungguhnya kita telah mereduksi cara berpikir kita dari discovery ke innovation lalu ke asembling. Cara berpikir yang terakhir ini adalah cara berpikir yang menggunakan ilmu kolaborasi yaitu mengambungkan pengetahuan dan teknonologi. Mengkolaborasi orang yang punya sepeda motor atau mobil dengan orang yang memerlukan jasa transportasi melalui IT. Mengkolaborasi orang yang perutnya lapar dengan pemilik produk makanan dengan pemilik sepeda motor yang mau disuruh dengan upah melalui IT. Dengan ”ilmu kolaborasi”, saat ini banyak orang bisa mendapatkan rezeki tanpa harus bekerja di kantor atau di pasar, dan juga banyak orang malas tetapi punya duit yang dimudahkan.

Saat ini, cara-cara berpikir dengan ”ilmu kolaborasi” telah tumbuh dengan pesat dan subur serta telah melahirkan karya-karya jasa ataupun produk benda-benda yang sangat nyata dan dibutuhkan oleh masyarakat. Ilmu semacam ini dapat dilakukan oleh siapa saja, tanpa harus memiliki ijazah apa pun, termasuk ijazah dari Perguruan tinggi. Cara berpikir seperti inilah barangkali salah satu yang dibaca dan ditangkap Google dan Ernst & Young untuk berani merekrut siapa pun tanpa ijazah apa pun untuk bekerja dengannya.

Atas dasar kondisi seperti itulah barangkali Jim Clifton merasa gelisah dan khawatir akan masa depan eksistensi Perguruan tinggi dalam perannya sebagai penyedia tenaga kerja industri. Keahlian ilmu seperti itu ternyata ”tak pernah” dan ”tak perlu” diajarkan Perguruan tinggi. Ilmu seperti itu dapat dipelajari siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Kekhawatiran Jim Clifton barangkali ”sangat berguna” untuk mendefinisikan ulang peran pendidikan tinggi dalam perubahan-perubahan alam dan kehidupan manusia di masa depan.

Siapkah kita?

“Siap memasuki” dan atau “Siap menyambut revolusi industri.”, itulah tema yang lagi viral di dunia pendidikan tinggi kekinian. Mulai dari orasi ilmiah para guru besar, topik bahasan seminar dan penelitian sampai sampai pada brosur kampus. Tema ini lari manis dikampanyekan. Benarkah pendidikan tinggi kita sudah siap menyambut revolusi industri? Bila melihat realita pendidikan tinggi kita (kurikulum, tenaga pengajar, sarana dan fasilitas pendidikan), masih jauh dari kata SIAP. Tapi apapun itu, tema tetaplah tema untuk sekedar penyemangat dan atau bahkan sekedar pencitraan semata. Walau bagaimanapun saya tetap mengapresiasi usaha dan kerja keras pemerintah dan perguruan tinggi mempersiapkan diri menghadapi era revolusi industri 4.0.

Pertanyaan yang mendasar adalah mampukah Pendidikan tinggi kita beradaptasi dengan Revolusi Industri 4.0?

Jika dunia industri tengah dihadapkan pada tantangan era generasi keempat (4.0), maka berbeda halnya dengan pendidikan di Indonesia yang saat ini masih bergelut dengan ragam tantangan di era generasi ketiganya (3.0). Kondisi ini ditandai dengan tuntutan akan peningkatan kualitas pembelajaran dan meninggalkan pola kebijakan lama yang sekadar berkutat pada masalah pemerataan akses serta pemenuhan sarana prasarana pendidikan.

Perubahan pola kebijakan yang berorientasi pada kualitas pembelajaran ini selaras dengan tuntutan tentang apa dan bagaimana seharusnya pendidikan di Indonesia sebagai media penyiapan sumber daya manusia yang siap terlibat dalam tantangan Revolusi Industri 4.0 tersebut. Pertanyaan yang pasti muncul adalah, “Siapkah kita memenuhi tuntutan sekaligus menghadapi tantangan revolusi industri 4.0?” Beberapa hal mengenai sampai di mana pendidikan kita dan persiapan apa yang diperlukan, saya coba urai satu persatu di bawah ini.

1. Kurikulum

Penyelarasan pembelajaran dalam tataran praktik yang disesuaikan pada konstruk kurikulum yang telah ada menjadi fokus pertama dalam penyelesaian ‘pekerjaan rumah’ pemerintah dalam bidang pendidikan. Kebijakan Kurikulum harus mengelaborasi kemampuan peserta didik pada dimensi pedagogik, kecakapan hidup, kemampuan hidup bersama (kolaborasi), dan berpikir kritis dan kreatif. Ini yang kemudian disinggung pada awal tulisan, yaitu pengedepanan ‘soft skills’ dan ‘transversal skills’, keterampilan hidup, dan keterampilan yang secara kasat tidak terkait dengan bidang pekerjaan dan akademis tertentu. Namun, hal itu bermanfaat luas pada banyak situasi pekerjaan layaknya kemampuan berpikir kritis dan inovatif, keterampilan interpersonal, warga negara yang berwawasan global, dan literasi terhadap media dan informasi yang ada.

Banyak kajian mengemukakan bahwa implementasi kurikulum di lapangan mengalami degradasi yang keluar konteks dan tidak lagi berorientasi pada pencapaian kemampuan peserta didik pada pemahaman ilmu dalam konteks praktik hidup dan keseharian (kompetensi keterampilan hidup), namun hanya berkisar pada target pencapaian kompetensi peserta didik yang digambarkan pada nilai-nilai akademik semata. Artinya, implementasi kurikulum di lapangan mengalami degradasi yang keluar konteks dan tidak lagi berorientasi pada pencapaian kemampuan peserta didik tersebut pada pemahaman ilmu dalam konteks praktik hidup dan keseharian.

2. Metode Belajar

Menstimulus kemampuan peserta didik melalui beragam terobosan metode belajar kontekstual yang mendorong siswa berpikir kritis dalam beragam konteks hidup yang nanti dihadapinya, seperti problem-based learning, inquiry-based learning, pendekatan pembelajaran Science, Technology, Engineering, Arts, dan Mathematics (STEAM), dan ragam pendekatan pembelajaran lainnya. Sehingga tidak sekadar berfokus pada pola-pola lama dan monoton pada pembelajaran yang minim kreativitas.

Selama ini kita banyak beranggapan bahwa dosen adalah kunci keberhasilan sebuah praktik pembelajaran pada peserta didik, tetapi lupa untuk mengakui bahwa dosen tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar siswa. Pola dan metode pembelajaran lama sering kali menempatkan dosen menjadi satu-satunya sumber belajar dan ‘maha tahu’ di dalam ruang kelas, seolah melupakan bahwa peserta didik yang merupakan subjek belajar pun sesungguhnya merupakan sumber belajar bagi rekan sejawatnya.

Metode pembelajaran yang beragam dan membuka keleluasaan dosen dalam mengeksplorasi peserta didik dan pola pembelajaran yang dijalankan di kelas, diharapkan akan juga memperluas wawasan peserta didik tentang kontekstualisasi ilmu yang didapatkannya di dalam kelas menuju praktik hidup yang dihadapinya nanti sebagai bagian dari realitas kehidupan.

Membuka banyak kesempatan dan peluang kepada peserta didik, dosen, kampus, dan iklim pendidikan secara luas untuk mengembangkan cakupan sumber belajar yang dimilikinya, baik dari sumber yang sifatnya tangible maupun intangible, akademis ataupun non akademis, tanpa batasan aksesibilitas atas sumber belajar tersebut. Dalam hal ini, perguruan tinggi melalui kebijakan-kebijakannya harus hadir dalam mengakomodir kebutuhan tersebut.

Selama ini kita banyak beranggapan bahwa guru/dosen adalah kunci keberhasilan sebuah praktik pembelajaran pada peserta didik, tetapi lupa untuk mengakui bahwa dosen tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar peserta didik.

3. Penguasaan Data, Informasi, dan Teknologi

Menstimulus dan memfasilitasi peserta didik serta masyarakat pendidikan untuk menguasai data dan informasi secara global, serta teknologi informasi yang dielaborasi dengan menciptakan ruang-ruang kreativitas dan ragam peluang yang memberikan keuntungan ekonomi yang sifatnya luas. Dalam hal ini, perguruan tinggi harus dapat mengakomodir infrastruktur digital yang dibutuhkan peserta didik dan masyarakat pendidikan untuk meniscayakan penguasaan data, informasi, serta teknologi tersebut.

4. Kapasitas yang Adaptif

Mendorong perkembangan pendidikan berbasis vokasional, dengan ragam keterampilan yang tidak sekadar mengedepankan konsep link and match antara perguruan tinggi dengan dunia industri, tetapi juga menekankan kapasitas lulusan yang lincah, adaptif, dan sensitif terhadap perubahan lingkungan industri dan ekonomi.

Keseimbangan pemahaman antara konsep pengetahuan dan keterampilan adalah hal yang penting, tetapi belum cukup bagi siswa untuk dapat memahami cepatnya perubahan lingkungan. Survival of the fittest sepertinya akan berlaku di era generasi keempat ini. Hanya mereka yang adaptiflah, yang akan survive terhadap gempuran Revolusi Industri 4.0 ini. Survival of the fittest sepertinya akan berlaku di era generasi keempat ini. Hanya mereka yang adaptiflah, yang akan survive terhadap gempuran Revolusi Industri 4.0.

Membangun Metode Pendidikan Baru

Menghadapi revolusi industri 4.0 tentu bukan hal mudah, paling tidak, ada dua arus utama pendidikan tinggi yang dapat ditawarkan kepada masyarakat, yaitu, pertama merekonstruksi ulang model pendidikan Perguruan tinggi agar tetap pada pada arahnya sebagai produsen sumber daya manusia yang unggul dan dibutuhkan masyarakat secara luas, dan kedua membangun inovasi pembelajaran yang ada saat ini.

Hal yang patut diketahui bersama bahwa kuantitas bukan lagi menjadi indikator utama bagi suatu perguruan tinggi dalam mencapai kesuksesan, melainkan kualitas lulusannya. Perguruan Tinggi wajib dapat menjawab tantangan untuk menghadapi kemajuan teknologi dan persaingan dunia kerja di era globalisasi. Dalam menciptakan sumber daya yang inovatif dan adaptif terhadap teknologi, diperlukan penyesuaian sarana dan prasarana pembelajaran dalam hal teknologi informasi, internet, analisis big data dan komputerisasi.

Perguruan tinggi yang menyediakan infrastruktur pembelajaran tersebut diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang terampil dalam aspek literasi data, literasi teknologi dan literasi manusia. Terobosan inovasi akan berujung pada peningkatan produktivitas industri dan melahirkan perusahaan pemula berbasis teknologi, seperti yang banyak bermunculan di Indonesia saat ini.

Tantangan berikutnya adalah rekonstruksi kurikulum pendidikan tinggi yang responsif terhadap revolusi industri juga diperlukan, seperti desain ulang kurikulum dengan pendekatan human digital dan keahlian berbasis digital. Persiapan dalam menghasilkan lulusan yang mampu beradaptasi dengan Revolusi Industri 4.0 adalah salah satu cara yang dapat dilakukan Perguruan Tinggi untuk meningkatkan daya saing terhadap kompetitor dan daya tarik bagi calon mahasiswa.

Perguruan tinggi Indonesia perlu merubah tiga hal dari sisi edukasi, yang paling fundamental adalah mengubah sifat dan pola pikir peserta didik. Selanjutnya, kampus harus bisa mengasah dan mengembangkan bakat peserta didiknya. Terakhir, Perguruan tinggi seharusnya mampu mengubah model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan zaman kiwari dengan fokus pada Konsep ‘KKN’ (komunikasi, kolaborasi, dan networking).

Berdasarkan hal tersebut diatas, maka perguruan tinggi harus bisa meramu metode pendidikan baru yang mampu menyesuaikan kebutuhan di era kekinian, yaitu :

Pertama, Pendidikan yang diselenggarakan atas dasar semangat discovery. Model pendidikan semacam ini mengorientasikan kegiatannya untuk dapat meraih ”penemuan-penemuan” besar yang berguna bagi perubahan-perubahan kehidupan manusia di masa depan. Riset-risetnya dilakukan atas dasar ”kerja kolektif” untuk diarahkan pada ”penyelesaian masalah-masalah besar” dan ”penemuan-penemuan besar” sehingga metode pendidikan yang diselenggarakan perguruan tinggi harus benar benar fokus bidang kajian prodi keilmuan yang diselenggarakan.

Kedua, pendidikan yang diselenggarakan atas semangat berpikir asembling, atau pendidikan yang diselenggarakan untuk melembagakan cara berpikir ”perakit”, sehingga tugas utamanya melahirkan sebanyak-banyaknya tenaga ahli perakit yang sangat dibutuhkan oleh dunia usaha dan industri.

Pendidikan seperti ini mungkin mirip pendidikan vokasi, tetapi bedanya terletak pada ”cara berpikir” yang luas, melintas disiplin, dan kompetensi yang dihasilkannya mampu melahirkan produk-produk baru, baik berupa barang maupun jasa. Mungkin pendidikan semacam ini tepat disebut ”pendidikan vokasi plus”. Dibeberapa negara Asia tampaknya telah memberi perhatian besar terhadap pengembangan pendidikan semacam ini.

Ketiga, memanggil masuk para pelaku pasar dan dunia industri yang berhasil yang dikenal dengan istilah para praktisi atau penggiat dunia usaha dan industri. Jadikan mereka dosen, tanpa pernah memperdulikan title akademiknya. Mereka diminta menyampaikan secara gamblang apa yang mereka lakukan setiap saat sehingga peserta didik memiliki semangat dan motivasi untuk bisa seperti mereka. Kehadiran mereka akan dapat memeberikan perubahan dan membuat terobosan kehidupan, baik dari aspek sains, kedokteran, sastra atau humaniora.

Keempat, pendidikan yang diselenggarakan harus dikembangkan kajian yang bukan hanya berbasis disiplin semata tetapi berbasis kebutuhan pasar. Titel akademik tidak lagi yang menentukan spesifikasi, tapi sertifikat ahli dari figur sentral dalam keilmuan yang ditekuni. Kuliah tidak perlu ditawarkan di ruang kelas, tapi di tempat praktek yang ditentukan oleh patron tadi. Datangkan ‘futurelog’ yang bisa memprediski revolusi kehidupan apa yang akan terjadi ke depan. Dunia pendidikan segera bergerak ke arah sana.

Dengan menyelenggarakan empat arus utama pendidikan tinggi semacam itu, selaian eksistensi pendidikan tinggi tetap dapat dipertahankan, maka pendidikan tinggi dikembalikan lagi perannya sebagai pemandu atau penuntun peradaban manusia, bukannya sebagai pembebek (pengekor) apa saja yang telah dilakukan oleh dunia kerja dan dunia industri.

Strategi Pembelajaran dan Gaya Belajar untuk Melahirkan Kaum Terdidik Masa Depan

Banyak sudah kita dengarkan saran dan kritik untuk mengatasi persoalan pada mutu pendidikan kita. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, topik-topik tersebut mengalami ketidakpastian dalam pengaplikasiannya. Tampaknya kita berputar-putar dalam lingkaran dan maju secara perlahan jika kata “kemandekan” atau “kegagalan” terlalu vulgar untuk diutarakan. Pemerintah dan perguruan tinggi di indonesia terlalu sibuk dengan rangkin universitas, jumlah riset, sistem informasi manageman, angka kelulusan dan data-data kuantitatif lainnya sehingga terpisah jauh dari jantung pendidikan itu sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir ini, mutu pendidikan tinggi kita menjadi salah satu gejala yang memprihatinkan.

Bukti nyata dari gejala tersebut adalah banyaknya penggangguran luaran perguruan tinggi termasuk “produk-produk gagal” bertitle S1 meskipun hal ini tidak terlepas dari dampak krisis ekonomi dunia tapi setidaknya indikasi bahwa produk pendidikan kita belum siap berhadapan dengan kerasnya globalisasi dan persaingan didunia kerja.

Pernahkah anda mendengar survey 70%? Salah satu surveynya bahwa dari seluruh yang dipelajari mahasiswa di bangku kuliah, 70% tidak bisa diaplikasikan di masyarakat. Kalau survey ini benar, paling tidak saatnya dunia pendidikan segera berbenah. Pendidikan seharusnya mengantisipasi kecenderungan perubahan yang tak terpikirkan oleh pelaku pendidikan.

Bersiaplah mendefenisikan ulang siapa yang disebut sebagai ‘kaum terdidik’. Mungkin saja mereka yang tidak pernah menginjak kampus. Atau mungkin saja universitas tempat belajarnya adalah universitas virtual, atau perguruan yang ada dalam kesadaran bersama, bukan universitas dalam bentuk fisik dengan hamparan bangunan kampus yang begitu luas.

Sadarkah kita mereka yang membuat perubahan yang membawa revolusi kehidupan adalah orang-orang ‘drop-out’ dalam dunia pendidikan. Sebut misalnya: Bill Gates (Microsoft) dan Mark Zuckerberg (Facebook). Sadarkah kita bahwa kejutan yang kita ciptakan sering bukan tempaan dunia pendidikan formal? Tanya yang membuat jari-jari anda bisa bermain di atas layar gadget hanya untuk membeli makanan atau memesan kendaraan online, apakah skill itu dibentuk oleh pendidikan formal?

Tak terkecuali, para dosen yang setiap hari membawakan khotbahnya di ruang kelas, apakah retorikanya yang menghipnotis peserta didiknya dan metode penyampaiannya di dapat dari lembaga pendidikan? Bukankah ilmu komunikasi mengajarkan anda menyampakan secara sistematis, jelas, ditopang dalil dan kesimpulan dan itu artinya penyampaian anda harus panjang. Sementara anda menyampaiakan materi selalu pendek, mengulas satu masalah dan mengambil contoh konkrit di masyarakat lalu anda tutup dengan kesimpulan ringan. Dan peserta didik datang mengerumuni anda karena tertarik dengan metode pengajaran anda. Saat anda bertanya apanya yang kalian suka dari metode mengajar saya? Mereka serempak menjawab: “Pendek!”. Yang anda praktekkan bukan teori.

Semua di atas adalah peringatan keras bahwa dalam waktu tidak terlalu lama, bisa saja sajian pengajaran yang ada sekarang tidak lagi dibutuhkan oleh peserta didik. Bisa saja itu berarti bahwa untuk bisa kontributif lebih luas dalam proses mengajar dan belajar peserta didik tempatnya bukan lagi berasal dari dunia pendidikan formal. Otoritas keilmuan bukan lagi murni klaim para pengajar dan pendidik dan institusi pendidikan, tapi berserakan di sudut-sudut kehidupan masyarakat.

Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, dosen harus punya ide kreatif untuk mengajar, konstruktivisme dalam pembelajaran dan lain sebagainya. Dosen harus memiliki ide-ide yang kreatif serta terus berinovasi terhadap metode pembelajaranya kepada mahasiswa. Selain itu, dosen juga harus memiliki pengetahuan mengenai materi yang diajarkan serta pengetahuan mengenai cara menyampaikan materi tersebut kepada mahasiswa. Dosen dituntut untuk terus mengupdate pengetahuan agar bisa membuat metode pembelajaran yang lebih menarik kepada mahasiswa untuk menciptakan kualitas pembelajaran yang lebih baik.

Dosen harus mengembankan pembelajaran dengan cara menyegarkan kembali prinsip pembelajaran agar proses pembelajaran menjadi lebih kreatif, inovatif dan menyenangkan. Dosen harus dapat menciptakan situasi dan kondisi agar mahasiswa dapat memproses informasi dengan lebih mudah dan cepat dipahami sekaligus melekat dalam ingatan mereka. Di sinilah dosen harus memperkenalkan berbagai strategi belajar dan mengajar kepada mahasiswa guna merangsang semangat belajar mahasiswa.

Selain itu, juga tujuan dari proses belajar mengajar yang dilaksanakan dosen adalah adanya perubahan tingkah laku baik aspek pengetahuan (kognitif), aspek sikap (afektif), maupun aspek psikomotorik. Salah satu perubahan aspek kognitif mahasiswa dapat dilihat dari indeks prestasi yang diperoleh. Indeks prestasi dijadikan sebagai tolok ukur penguasaan akademik mahasiswa.

Oleh karena hal itulah, kegiatan pembelajaran dosen harus berfokus pada peserta didik yang menekankan pada pengembangan kompetensi peserta didik, seperti kreativitas, kepemimpinan, rasa percaya diri, kemandirian, kedisiplinan, kekritisan dalam berpikir, kemampuan berkomunikasi, dan bekerja dalam tim serta wawasan global untuk dapat selalu beradaptasi terhadap perubahan dan perkembangan zaman.

Dosen harus menyegarkan kembali prinsip pembelajaran yang lebih kreatif, inovatif dan menyenangkan agar mahasiswa aktif dan mau berpartisipasi dalam proses pembelajaran untuk mencapai prestasinya. Bukan aktif hanya sekedar mengerjakan tugas semata tetapi turut serta berpartisipasi dalam proses perkuliahan. Artinya proses belajar mengajar beralih pada penekankan kebutuhan dan kemampuan peserta didik.

Strategi Pembelajaran

Salah satu tugas dosen ketika mempersiapkan perkuliahan adalah memikirkan bagaimana agar mahasiswa dapat memproses informasi yang disampaikan dan bagaimana agar dosen dapat mengaitkan informasi dengan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh mahasiswa. Dosen harus dapat menciptakan situasi dan kondisi agar mahasiswa dapat memproses informasi dengan lebih mudah dan cepat dipahami sekaligus melekat dalam ingatan mereka. Di sinilah dosen harus Memilih strategi pembelajaran yang tepat disesuaikan dengan karakteristik mahasiswa, materi yang diajarkan, maupun dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

Aspek pengajaran yang paling penting adalah pemberian pengalaman kepada mahasiswa, tentu saja harus dimulai dengan pemahaman terhadap tujuan pengajaran yang telah dirumuskan. Kemudian harus diikuti dengan pemilihan materi yang tepat, penentuan strategi pembelajaran yang sesui dan penggunaan alat evaluasi yang betul. Namun semua itu, mulai dari tujuan, materi, strategi dan evaluasi sangat terkait, bahkan menjadi satu rangkaian yang harus dipersiapkan di awal pembelajaran.

Perencanaan merupakan upaya untuk merumuskan apa yang ingin dicapai serta bagaimana sesuatu yang ingin dicapai tersebut dapat terlaksana melalui rumusan rencana kegiatan. Untuk bias mengajar dengan baik, dosen harus mempersiapkan materi dengan cara mencari silaby dari mata kuliah yang akan diajarkan, kemudian membuat course outline atau SAP (Satuan Acara Perkuliahan) dengan mempertimbangkan waktu yang tersedia. Selanjutnya menentukan strategi yang tepat untuk penyampaian materi tersebut dengan menyiapkan segala sarana dan pra sarana yang diperlukan.

Dalam penyampaian materi tersebut, dosen harus memiliki antusiasme yang tinggi, artinya penuh semangat sehingga bias menumbuhkan kesadaran mahasiswa bahwa belajar itu penting, untuk itu dosen harus memiliki kompetensi akademik, kepribadian dan sosial.

Dalam perkuliahan, dosen harus berperan sebagai teladan dan motivator bagi peserta didik, menjadi agen pengembangan pengetahuan, dan perubahan serta mampu mengarahkan mahasiswa. Selain menjadi pentransfer ilmu, dia juga harus mampu memberikan wawasan tentang perkulihan yang akan disampaikan; menjadi mediator, fasilitator, dan sekaligus dinamisator bagi mahasiswanya agar mereka memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar.

Peran yang harus dilakukan oleh mahasiswa dalam kegiatan belajar menagjar adalah denga aktif mencari materi-materi yanag sesuai dengan topik-topik perkuliahan. Karena dengan mengikuti perkuliahan dia harus mempunyai bekal atau persiapan untuk didiskusikan di kelas. Dengan demikian, dia harus memiliki kemandirian tidak selalu bergantung pada dosen. Karena yang didapat dari dosen itu sebenarnya hanyalah sebagian kecil saja dari ilmu pengetahuan yang dia peroleh.

Agar iklim perkuliahan berjalan secara kondusif, maka performance dosen harus baik, penguasaan materi baik dan adanya pemilihan strategi perkulaian yang tepat. Perkuliahan harus dilaksanakan dalam suasana penuh keakraban namun tetap menjaga nilai-nilai akademis. Untuk itu perlu ada komunikasi yang baik antara dosen dengan mahasiswa, sehingga tercipta suasana dialogis secara bebas yanag dapat merangsang semangat belajar mahasiswa. Dalam rangka menciptakan iklim seperti itu maka perlu ada upaya motivasional untuk menarik perhatian mahasiswa sehingga materi dapat tersampaikan dengan baik. Di akhir perkuliahan harus ada latihan-latihan atau tugas agar yang kita sampaikan itu dapat dikuasai oleh mahasiswa. Namun perlu diusahakan dosen memiliki banyak humor, sehingga suasana tidak tegang.

Gaya Belajar

Dosen harus menyadari bahwa para mahasiswanya memiliki gaya belajar yang berbeda. Istilah gaya belajar (learning style) yang dimaksud adalah karakteristik dan preferensi atau pilihan individu mengenai cara mengumpulkan informasi, menafsirkan, mengorganisasi, merespons, dan memikirkan informasi tersebut. Sebagaian mahasiswa lebih senang belajar sendirian, sementara yang lain suka belajar secara berkelompok.

Sebagian mahasiswa suka memperolaeh informasi dengan membaca, sebagian lebih suka mendapatkan informasi lewat berbagai aktifitas. Tidak ada satupun gaya belajar yang lebih baik dari yang lain, dan tidak ada satupun gaya belajar yang mendorong uantuk belajar lebih baik. Tetapi semua disesuaikan dengan situasi, materi, tujuan yang hendak dicapai. Masalahnya strategi mungkin cocok untuk satu situasi/materi tertentu, akan tetapi tidak cocok untuk situasi yang berbeda.

Bagi seorang dosen, memahami gaya belajar sangat bermanfaat, paling tidak karena tiga alasan. Pertama, mengetahui gaya belajar mahasiswa dapat membentu dosen mengerti perbedaan yang ada di kalangan mahasiswa. kedua, dosen mungkin ingin mengembangkan berbagai strategi mengajar untuk membangun kelebihan individual yang berbeda yang dimiliki oleh mahasiswa. ketiga, mengetahui perbedaan mahasiswa dapat membantu dosen mengembangkan strategi belajar mahasiswa.

Kolb mengidentifikasi ada empat gaya belajar berikut ini :

  1. Convergers : mahasiswa yang mengandalkan konseptualisasi abstrak dan eksperimentasi aktif; mereka suka menenukan jawaban konkret dan bergerak dengan cepat untuk menemukan pemecahan masalah; mereka baik sekali dalam mengidentifikasi masalah dan membuat keputusan; mereka tidak emosional; mereka lebih senang bekerja dengan ide-ide dari pada bekerja dengan orang lain.
  2. Divergers : mahasiswa menggunakan pengalaman konkret dan pengamatan reflektif untuk memunculkan gagasan-gagasan ; mereka bagus dalam brainstorming dan membuat alternative, mereka paling senang berinteraksi dengan orang lain.
  3. Assimilators: mahasiswa yang mengandalkan konseptualisasi abstrak dan pengamatan reflektif; mereka senang mengasimilasikan berbagai informasi dan menyusunnya kembali dengan logika yang tepat; mereka bagus dalam membuat perencanaan, mengembangkan teori, dan menciptakan model, tetapi kurang tertarik dalam mengaplikasikan teori dalam kehidupan nyata; mereka belajar dengan baik dengan membaca, mendengarkan, mengamati, dan merenungkan informasi yang diperoleh.
  4. Accomodators: mahasiswa yang belajar dengan baik dengan menggunakan pengalaman konkrit dan eksperimentasi aktif, mereka suka menggunakan strategi trial and error dari pada instruksinya terlebih dahulu, atau intuisi untuk memecahkan masalah, mereka cenderung mengambil resiko dan masuk ke dalam masalah tersebut, mereka pandai menyesuaikan diri dengan situasi baru.
  5. Dalam aktifitas kelas mahasiswa konvergers, cenderung lebih menyukai menyelesaikan masalah dengan jawaban pasti. Mahasiswa divergers, cenderung memperoleh keuntungan lebih dari kelompok diskusi dan mengerjakan proyek secara kolaboratif. Mahasiswa assimilators, cenderung akan merasa sangat nyaman mengamati, memperhatikan role play (bermain peran) dna simulasi di adalam kelas serta menciptakan konsep. Mahasiswa accommodators, cenderung lebih senang beraktifitas dan mereka akan menjadi pemain yang terbaik dalam role play, kerja kelompok, simulasi, dan kunjungan lapangan

#SemogaBermanfaat @MajuTerusPendidikanTinggiIndononesia

~Yusrin Ahmad Tosepu.~

KAMPUS
Jalan Tugu Tani Majelling Watang
Kecamatan Maritengngae
Kabupaten Sidenreng Rappang
SULAWESI SELATAN ~ 91611

INFO KONTAK
0421-3580322
+62811 444 5238
www.staidisidrap.ac.id
staiddisidrap@yahoo.co.id