SEKILAS INFO
20-04-2019
  • Selamat Datang di Website SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) DDI SIDRAP
  • TERAKREDITASI INSTITUSI SK : 823/SK/BAN-PT/Akred/PT/VIII/2015
15
Jan 2019
Menggagas Perguruan Tinggi Alternatif Berbasis Entrepreneurship dan Ekonomi Kreatif

Diperkirakan ada 2 juta penduduk Indonesia yang tiap tahunnya terjun ke dunia kerja, adalah tantangan yang sangat besar buat pemerintah Indonesia untuk menstimulasi penciptaan lahan kerja baru supaya pasar kerja dapat menyerap para pencari kerja yang tiap tahunnya terus bertambah; pengangguran muda (kebanyakan adalah mereka yang baru lulus kuliah) adalah salah satu kekhawatiran utama dan butuh adanya tindakan yang cepat.

Lulusan perguruan tinggi Indonesia sedang mengalami dilema, sebab gelar ijazah pendidikan tinggi yang mereka raih tak lagi jadi jaminan mudah untuk mendapat pekerjaan. Kesulitan mereka terserap dunia kerja semakin bertambah berat, karena mereka juga bersaing dengan tenaga kerja asing dari negara-negara ASEAN sebagai dampak berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Sulitnya lulusan universitas lokal memperoleh pekerjaan sudah terlihat dari angka pengangguran terdidik Indonesia yang meningkat setiap tahun.

Jumlah sarjana yang lulus setiap tahun tak sebanding dengan serapan tenaga kerja. Lapangan kerja yang terbatas membuat persaingan semakin ketat. Bulan Maret 2018 lalu, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi mencatat sekitar 8,8% dari total 7 juta pengangguran di Indonesia adalah sarjana. Kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan mengingat persaingan untuk mendapatkan pekerjaan akan semakin ketat dengan datangnya Revolusi Industri 4.0. Selain bersaingan dengan mesin berbasis teknologi canggih, sekitar 630.000 sarjana pengangguran tersebut juga harus beradu kompetensi dan keahlian tertentu dengan pekerja asing yang datang dari terbukanya pasar bebas.

Kesulitannya sarjana menembus dunia kerja karena relevansi antara mutu perguruan tinggi dan kebutuhan dunia industri masih rendah. Kemenristekdikti mendata, tahun lalu, jumlah tenaga kerja lulusan perguruan tinggi hanya sebesar 17,5%. Persentase tersebut jauh lebih kecil ketimbang tenaga kerja lulusan SMK/SMA yang mencapai 82%, sedangkan lulusan SD mencapai 60%.

Pemetaan serapan tenaga kerja tersebut hampir tak akan berubah setidaknya dalam kurun 5 tahun ke depan. Lulusan perguruan tinggi turut menyumbang pengangguran yang menjadi beban negara. Relevansi lulusan perguruan tinggi terhadap kebutuhan tenaga kerja menjadi faktor penting dalam upaya mencegah sarjana menganggur.

Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia mencatat, angka pengangguran untuk tingkat pendidikan menengah ke atas (sarjana) cukup tinggi. Selain itu jumlah kompetensi tenaga kerja berusia produktif sebesar 131,5 juta orang, dengan 79 juta orang atau kurang lebih 60 persen berpendidikan hanya di tingkat SMP. Dalam satu tahun lulusan sarjana secara nasional mencapai 750 ribu – 800 ribu orang.

Disis lain banyak lulusan perguruan tinggi bekerja tidak sesuai dengan kualifikasinya selama menempuh pendidikan. Banyak perguruan tinggi mencetak banyak sarjana, tapi tidak match dengan kebutuhan lapangan kerjanya. Fenomena yang umum terjadi yakni banyak lulusan umum perguruan tinggi yang menyeberang ke sektor lain, lantaran minimnya lapangan kerja di bidangnya masing-masing. Di sisi lain, banyak pula sektor yang membutuhkan tenaga kerja tapi sepi pelamar lantaran kurangnya kualifikasi keterampilan yang dibutuhkan. Perusahaan, pasti membutuhkan tenaga kerja yang qualified.

Salah satu pangkal yang seringkali disebut sebagai penyebab terjadinya masalah tersebut diatas adalah rendahnya kualitas pendidikan dan terlebih yang sering disorot adalah kualitas pendidikan tinggi di Indonesia. Berdasarkan data yang dirilis Pusat Data dan Informasi Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), di Indonesia saat ini terdapat 4536 perguruan tinggi dengan berbagai macam bentuk mulai dari universitas, institut hingga akademi dan memiliki 25023 Program Studi.

Dengan banyaknya perguruan tingggi serta program studi tersebut amat disayangkan belum mampu menyeselesaikan berbagai macam permasalahan yang ada di Indonesia, karena manajemen perguruan tinggi yang semakin terfokus pada masalah capaian reputasi berbasis administrasi dan nihil substansi keilmuan di sana sini. Hal tersebutlah yang menjadi penyebab para lulusan perguruan tinggi gamang untuk bisa berkiprah di masyarakat maupun dunia kerja setelah lulus dari dari perguruan tinggi. Mempertimbangkan berbagai hal tersebut, menurut hemat penulis perlu dipikirkan model pendidikan tinggi alternatif. Salah satu alternatifnya adalah perguruan tinggi berbasis entrepreneurship dan ekonomi kreatif.

Dalam upaya menyiapkan warga bangsa menghadapi tantangan kehidupan (ekonomi) yang mengglobal, ekonomi kreatif sebagai salah satu diantara tulang punggung ekonomi masa depan. Beberapa hal yang dapat dipahami sebagai pertimbangan kebijakan tersebut adalah: Pertama, ekonomi kreatif telah menunjukkan potensi signifikan terhadap penciptaan dan penyerapan tenaga kerja serta pertumbuhan ekonomi. Kedua, Indonesia memiliki potensi ekonomi kreatif yang memberikan kontribusi ekonomi dan dampak sosial. Ketiga, Ekonomi kreatif dapat meningkatkan citra dan identitas suatu bangsa dalam kerangka Nation Branding. Citra dapat dibangun melalui peningkatan ekspor produk kreatif Indonesia, menandakan kreativitas bangsa Indonesia semakin diperhitungkan.

Terkait dengan hal tersebut, melalui tulisan ini, saya menawarkan gagasan model perguruan tinggi alternatif berbasis kewirausahaan dan ekonomi kreatif yang fokus menghasilkan SDM unggul yang siap membangun dan mengembangkan ekonomi dan industri kreatif di tanah air

Entrepreneurship dan Ekonomi Kreatif adalah Pilar Perekonomian Masa Depan

Era globalisasi dan konektivitas mengubah cara bertukar informasi, berdagang, dan konsumsi dari produk-produk budaya dan teknologi dari berbagai tempat di dunia. Dunia menjadi tempat yang sangat dinamis dan kompleks sehingga kreativitas dan pengetahuan menjadi suatu aset yang tak ternilai dalam kompetisi dan pengembangan ekonomi. Kreatifitas memang sangatlah penting dan diperlukan bagi orang yang memiliki jiwa kewirausahaan. Kreatifitas itu jugalah yang menjadi dasar fenomena munculnya konsep Ekonomi Kreatif yang sekarang ini juga marak disosialisasikan, bersamaan dengan pendidikan kewirausahaan pada masyarakat indonesia.

Ekonomi dan Industri kreatif berbasis ide, kreativitas dan pengetahuan, yang bila semakin dieksploitasi atau dieksplorasi maka tidak akan pernah habis, bahkan akan semakin hebat dan akurat. Oleh karena itu, industri kreatif merupakan sumber daya terbarukan untuk menciptakan ekonomi kreatif. Dapat diwujudkan melalui wirausaha, usaha dan produk kreatif yang mengandalkan kemampuan (skill), pengetahuan (knowledge) serta sikap dan perilaku (attitude).

Di Indonesia saat ini di pendidikan tentang kewirausahaan sangat gencar diberikan kepada masyarakat sejak dini dengan harapan kewirausahaan tersebut dapat berakar kuat dalam diri masyarakat Indonesia sehingga memunculkan banyak wirausahawan yang menciptakan banyak lapangan pekerjaan. Kondisi yang sering terjadi adalah anak-anak Indonesia setelah tamat sekolah, yang terbersit dipikirannya adalah bekerja. Melihat kondisi Indonesia saat ini, dengan ketersediaan lapangan kerja yang tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja, pola pikir seperti itu tidak tepat. Mengapa? Karena pola pikir seperti itu tidak memacu kreatifitas dalam diri. Kecenderungan untuk hanya meniru lah yang akan timbul. Sesungguhnya, keterampilan untuk mencipta sesuatu ide dan gagasan barulah yang sangat diperlukan.

Entrepreneurship dapat diartikan sebagai kemampuan individu dalam menciptakan peluang ekonomis dari sebuah ide usaha baik skala kecil maupun skala besar. Menurut Carol Noore yang dikutip oleh Bygrave, proses kewirausahaan diawali dengan adanya inovasi. Inovasi tersebut dipengeruhi oleh berbagai faktor baik yang berasal dari pribadi maupun di luar pribadi, seperti pendidikan, sosiologi, organisasi, kebudayaan dan lingkungan. Faktor-faktor tersebut membentuk ‘’locus of control’’, kreativitas, keinovasian, implementasi, dan pertumbuhan yang kemudian berkembangan menjadi wirausahawan yang besar.

Dengan terserapnya tenaga kerja oleh kesempatan kerja yang disediakan oleh seorang wirausaha, tingkat pengangguran secara nasional menjadi berkurang. Menurunnya tingkat pengangguran berdampak terhadap naiknya pendapatan perkapita dan daya beli masyarakat, serta tumbuhnya perekonomian secara nasional. Selain itu, berdampak pula terhadap menurunnya tingkat kriminalitas yang biasanya ditimbulkan oleh karena tingginya pengangguran.

Seorang yang mengaplikasikan konsep dari kewirausahaan yaitu bekerja dengan independen dan menciptakan lapangan kerja sendiri dengan menjalankan usahanya berdasarkan idenya sendiri,dan menggunakan sumber daya yang tersedia secara kreatif dan inovatif. Kewirausahaan tidak mutlak dimiliki oleh wirausaha dalam dunia bisnis saja. Kenyataannya, sifat kewirausahaan juga banyak dimiliki karyawan, baik swasta ataupun pemerintah. Sifat kewirausahaan, itu sendiri muncul ketika seseorang berani mengembangkan ide-idenya dengan usaha-usaha tertentu.

Apakah Ekonomi Kreatif itu? Ekonomi Kreatif adalah sebuah konsep yang menempatkan kreativitas dan pengetahuan sebagai aset utama dalam menggerakkan ekonomi. Ekonomi Kreatif menjadi era ekonomi baru dimana informasi, pengetahuan dan kreativitas menjadi faktor produksi utama bagi negara. Sehingga Ekonomi kreatif adalah suatu kegiatan ekonomi di mana input dan output adalah gagasan atau dalam satu kalimat yang singkat, esensi dari kreativitas adalah gagasan. Dan sebaiknya konsep kewirausahaan maupun konsep ekonomi kreatif terdapat unsur benang merah yang sama yakni terdapat konsep kreativitas, ide atau gagasan serta konsep inovasi. Ini juga sebagai dampak dari struktur perekonomian dunia yang mengalami percepatan transformasi teknologi seiring dengan perubahan pola produksi dan konsumsi.

Indonesia sebagai negara yang kaya akan budaya dan alam berlimpah sebagai inspirasi dalam pengembangan ekonomi kreatif. Kunci utama tercapainya ekonomi kreatif terletak pada kualitas sumber daya manusia, tak terlepas juga dari berbagai faktor pendukung yaitu dengan keberadaan industri kreatif yang menjadi pengejawantahannya. Indonesia perlu melakukan lompatan dari perekonomian yang sebelumnya mengandalkan sumberdaya alam dan pertanian, industri, teknologi informasi menjadi perekonomian yang digerakkan oleh industri kreatif. Kewirausahaan dan ekonomi Kreatif akan mendorong inovasi yang menciptakan nilai tambah lebih tinggi.

Kontribusi ekonomi kreatif pada perekonomian nasional semakin nyata. Nilai tambah yang dihasilkan ekonomi kreatif juga mengalami peningkatan setiap tahun. Pertumbuhan sektor ekonomi kreatif sekitar 5,76 %. Artinya berada di atas pertumbuhan sektor listrik, gas dan air bersih, pertambangan dan penggalian, pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan, jasa-jasa dan industri pengolahan.

Dari semula tak begitu dilirik, kini ekonomi kreatif semakin menunjukkan taring. Dari tahun ke tahun, kontribusinya terhadap perekonomian nasional semakin terlihat. Tahun 2017 saja, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mencatat, sumbangan industri kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2017 mencapai Rp 1.009 triliun.

Ini artinya, ada tambahan sekitar Rp 70 triliun sampai Rp 80 triliun dari PDB industri ini pada 2016, yang tercatat Rp 922 triliun. Adapun di 2015, sumbangannya mencapai Rp 852 triliun. Sementara kontribusinya hingga akhir 2018 bakal lebih dari Rp 1.000 triliun.

Dalam menghadapi tantangan yang semakin berat ke depan, Indonesia perlu memperkuat kemampuan ekonomi dan industri kreatif mulai dari SDM sampai Keterkaitan dengan sektor-sektor lain baik ke belakang, dengan pemasok maupun keterkaitan ke depan yang menyerap subsektor ekonomi kreatif perlu diperkuat.

Mengutip dari situs resmi Badan Ekonomi Kreatif, ada 16 subsektor industri kreatif. Adapun ke 16 subsektor industri kreatif yaitu Aplikasi dan Pengembangan Permainan, Arsitektur, Desain Interior, Desain Komunikasi Visual, Desain Produk, Fashion. Film, Animasi dan Video; Fotografi, Kriya, Kuliner, Musik, Penerbitan, Periklanan, Seni Pertunjukan, Seni Rupa, Televisi dan Radio.

Dari 16 sub sektor yang masuk ke dalam ekonomi kreatif, baru 3 yang dirasakan perkembangannya dengan cukup berarti di negara ini. 3 subsektor tersebut adalah kuliner, fashion dan kerajinan. Inilah tantangan perguruan tinggi yang ada sekarang ini untuk merespon peluang tersebut dengan mempersiapkan SDM untuk dapat berkiprah di bidang ekonomi kreatif. Pasalnya, pendidikan ekonomi kreatif dapat menjadi pendorong terbentuknya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Perguruan tinggi alternative berbasis intrepreneurship dan ekonomi kreatif sebagai salah satu solusi menghadapi tantangan dan meraih peluang yang ada.

Rancangan Perguruan Tinggi Alternatif Berbasis berbasis Entrepreneurship dan Ekonomi Kreatif

Sektor ekonomi kreatif merupakan akselator pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia. Namun harus disadari, upaya untuk menggerakkan sektor ekonomi kreatif memerlukan berbagai faktor pendukung salah satu sektor pendidikan. Ekonomi kreatif ini diyakini dapat menjawab tantangan permasalahan ekonomi seperti relatif rendahnya pertumbuhan ekonomi, masih tingginya pengangguran, tingginya tingkat kemiskinan, dan rendahnya daya saing industri di Indonesia.

Ekonomi kreatif akan mampu menjawab tantangan negeri ini baik dalam jangka pendek, menengah dan jangka panjang dalam berbagai aspek. Hal tersebut salah satunya akan tercapai jika ekonomi kreatif diimplementasikan dalam bidang pendidikan. Untuk bisa mencapai hal tersebut harus ada usaha memperkenalkan ekonomi kreatif di kalangan pelajar dan mahasiswa sejak dini. Dengan pendidikan sejak dini, akan menciptakan potensi pengembangan industri kreatif dimasa kini dan masa mendatang.

Salah satu alternatinya adalah dengan mendirikan perguruan tinggi berbasis kewirausahaan dan ekonomi kreatif sebagai tempat mendidik dan mengkader generasi muda menjadi wirausaha pelaku industri kreatif. Dari merekalah diharapkan mampu mendorong tumbuhnya pelaku ekonomi kreatif lainnya yang dapat mendukung ekonomi regional dan nasional. Serta diharapkan mampu mendorong tumbuhnya industri lain yang terkait, seperti peningkatan investasi, pengembangan usaha kecil, pendapatan devisa negara, dan lainnya.

Mengingat besarnya peluang usaha dan bisnis di sektor ekonomi kreatif. Dari 16 sub sektor yang masuk ke dalam ekonomi kreatif, baru 3 subsektor yang dirasakan perkembangannya dengan cukup berarti di negara ini. Hal tersebut  tantangan dan sekaligus peluang besar sektor pendidikan untuk mendidik dan menyiapkan SDM untuk menjadi bagian dari Perkembangan ekonomi kreatif Indonesia. Sehingga perlunya pendidikan alternatif yang menjadikan kewirausahaan dan ekonomi kreatif sebagai orientasi utamanya.

Setiap subsektor yang masuk ke dalam ekonomi kreatif memiliki potensi dan karakter uniknya masing-masing, oleh karena dalam merancang desain pendidikan tinggi alternatif berbasis kewirausahaan dan ekonomi kreatif mempertimbangkan hal tersebut, sehingga secara kelembagaan kewirausahaan dan ekonomi kreatif diposisikan seperti program studi, sehingga semua education process fokus dan terpusat pada program studi.

Sebagai Pendidikan alternatif, tentu hal yang harus atau perlu ada pun tentu tidak serumit dengan pendidikan formal, proses perkuliahan akan dilaksanakan seperti penggunakan sistem blok, filosofi dari sistem blok ini adalah “apa yang dikatakan, langsung dikerjakan/dipraktekkan”, maksudnya adalah sistem ini harus tuntas dari mulai pembelajaran teori hingga dipraktekan secara tuntas. Sistem blok tidak mengenal teori saja tetapi teori tersebut harus diaplikasikan dalam praktik di lapangan. Model evaluasi dilakukan secara langsung ketika proses pembelajaran atau lebih diikenal istilah autentic assessment.

Tenaga pendidik atau mentor dalam perkuliahan direkrut berdasarkan keahlian yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan, syarat utama sebagai tenaga pendidik dalam perkuliahan haruslah orang yang ahli dalam pekerjaannya atau bidangnya, misalnya pemilik bengkel, pelukis, seniman, petani, pedagang, tukang cat atau keahlian lainnya, dan tidak terdapat syarat wajib telah menempuh jenjang pendidikan tertentu. Apabila di program studi belum tersedia tenaga pendidik yang dibutuhkan bisa dilakukan perekrutan relawan yang bersedia untuk mengajar sesuai dengan target pembelajaran yang telah ditetap.

Sebagai penciri bahwa perguruan tinggi alternatif berbasis kewirausahaan dan ekonomi kreatif memenuhi kualifikasi jenjang pendidikan tinggi, maka harus dipastikan bahwa dalam menentukan capaian pembelajaran telah sesuai minimal dengan level 6 kerangka kualifikasi nasional indonesia (KKNI).

Kurikulum dan pembelajarannya dirancang khusus dengan memasukkan materi ajar yang bersifat inovatif, misalnya melakukan penelitian yang dapat menumbuhkan berbagai ide. Program kewirausahaan, yaitu Program Wirausaha Muda, dan Inkubator Bisnis. Mengarahkan peserta didik menjadi insan yang kreatif dan inovatif dengan menciptakan akses pertukaran informasi dan pengetahuan antar peserta didik dengan pelaku ekonomi dan industri kreatif. Kegiatan pelatihan formal dan informal berkesinambungan. Memfasilitasi pengembangan jejaring dan mendorong kerja sama insan kreatif di dalam dan luar negeri.

Substansi inti program pendidikannya adalah sebagai berikut:

  1. Metodologi: Penerapan metodologi pendidikan yang tidak lagi berupa pengajaran demi kelulusan, namun pendidikan menyeluruh pada kreativitas, keterampilan, dan bakat individu untuk menciptakan daya kreasi dan daya cipta individu yang bernilai ekonomis. Sistem PBM langsung menyentuh ke implementasinya dan diimplementasikan langsung.
  2. Kurikulum: Kurikulum yang mendorong penciptaan hasil didik yang mampu menjawab kebutuhan SDM untuk mendukung subsektor ekonomi kreatif (mengembangkan model link and match);
  3. Kualitas: Kualitas dosen, kelengkapan sarana dan fasilitas pendidikan, pengelolaan dan layanan pendidikan

Sasaran dan tujuannya :

  1. Pendidikan kewirausahaan dan ekonomi kreatif menjadi penggerak ekonomi kreatif bangsa dengan menyiapkan lulusan yang memiliki modal dan kemampuan dalam mengembangkan ekonomi kreatif.
  2. Pendidikan kewirausahaan dan ekonomi Kreatif merupakan suatu alternatif dalam menyiapkan sumberdaya manusia dalam mengembangkan ekonomi kreatif di berbagai subsektor ekonomi kreatif. Sebagai tolak ukurnya adalah pembangunan bidang pendidikan diarahkan demi tercapainya pertumbuhan ekonomi yang didukung keselarasan antara ketersediaan tenaga terdidik dengan kemampuan untuk menciptakan lapangan kerja atau kewirausahaan dan menjawab tantangan kebutuhan tenaga kerja di berbagai subsektor ekonomi kreatif.

Dan akhirnya gagasan pendirian perguruan tinggi alternatif berbasis kewirausahaan dan ekonomi kreatif merupakan tawaran solutif untuk membantu menggerakkan sektor ekonomi kreatif di negeri yang kita cintai ini melalui pendidikan tinggi alternatif yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri dan mempersiapkan generasi bangsa berkiprah di kancah nasional dan internasional.

Saya dan kita semua berharap di masa yang akan datang, bangsa ini bukan lagi penonton, bukan sebagai bangsa yang konsumtif, akan tetapi kita adalah bangsa yang produktif dengan kemampuan dan sumber daya insani yang kreatif dan inovatif di tambah dengan perpaduan kekayaan alam dan budaya.

Semoga bermanfaat bagi kita semuanya.

KAMPUS
Jalan Tugu Tani Majelling Watang
Kecamatan Maritengngae
Kabupaten Sidenreng Rappang
SULAWESI SELATAN ~ 91611

INFO KONTAK
0421-3580322
+62811 444 5238
www.staidisidrap.ac.id
staiddisidrap@yahoo.co.id